Minggu, 23 November 2014

RAGAM BAHASA INDONESIA



A.      Pengertian Ragam Bahasa

Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

B.        Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis :

1.      Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Media
·        Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

Ciri-ciri ragam lisan:
a.     Memerlukan orang kedua/teman bicara.
b.     Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu.
c.     Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d.    Berlangsung cepat.
e.     Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
f.     Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
g.     Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

Kelebihan ragam bahasa lisan:
a.       Dapat disesuaikan dengan situasi.
b.      Faktor efisiensi.
c.       Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsure lain berupa tekan dan gerak anggota badan agah pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak pembicara.
d.      Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya.
e.       Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur.
f.        Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif.
Kelemahan ragam bahasa lisan :
a.       Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-frase sederhana.
b.       Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.
c.        Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan.
d.       Aturan-aturan bahasa yang dilakukan tidak formal.

·        Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

Ciri-ciri ragam tulis :
1. Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara.
2. Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu.
3. Harus memperhatikan unsur gramatikal.
4. Berlangsung lambat.
5. Selalu memakai alat bantu.
6. Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi.
7.Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda   baca.

Kelebihan ragam bahasa tulis :
a.       Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan menyenangkan.
b.      Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
c.        Sebagai sarana memperkaya kosakata.
d.      Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca.
Kelemahan ragam bahasa tulis :
a.       Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
b.      Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.
c.       Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.
Contoh ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis

No
Ragam bahasa lisan
Ragam bahasa tulis
1.
Papy bilang saya harus segera pulang
Papy mengatakan bahwa saya harus segera pulang
2.
Adik lagi baca buku
Adik sedang baca buku
3.
Saya tinggal di Bandung
Saya bertempat tinggal di Bandung

2.       Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Penutur
a.       Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek)
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda.

b.       Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

Contoh:
1) Ira mau nulis surat seharusnya Ira mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang Kancil seharusnya Saya akan menceritakan tentang Kancil.

c.       Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

3.      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.

1.      Ragam bahasa ilmiah
Ciri-ciri ragam ilmiah:
a.   Bahasa Indonesia ragam baku;
b.  Penggunaan kalimat efektif;
c. Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda.
d.  Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
e. Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
f.  Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.

2.      Ragam hukum
Contoh : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana

3.      Ragam bisnis
Contoh : Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon

4.      Ragam agama

5.      Ragam psikologi
Contoh : Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif.

6.      Ragam kedokteran
Contoh : Anak itu menderita penyakit kuorsior.

7.      Ragam sastra
Contoh : Cerita itu menggunakan unsur flashback.

Sumber : sumber1 , sumber2 , sumber3 ,  sumber4 , sumber5 , sumber6
Sumber Lain: Modul Bahasa Indonesia tentang Ragam Bahasa oleh Tri Wahyu



DIKSI ATAU PILIHAN KATA


DIKSI (PILIHAN KATA) 
Jika kita menulis atau berbicara, kita itu selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa, kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.
Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.

Definisi Diksi
Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
   
Fungsi Diksi 
a)    Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verba.
b)    Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat.
c)    Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
d)    Mencegah perbedaan penafsiran.
e)    Mencagah salah pemahaman.
f)     Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

Manfaat Diksi 
1. Dapat membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif, bersinonim dan hapir bersinonim, kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
2. Dapat membedakan kata-kata ciptaan sendiri fan juga kata yang mengutip dari orang yang terkenal yang belum diterima dimasyarakat. Sehingga dapat menyebabkan kontroversi dalam masyarakat.
  
Syarat-Syarat Ketepatan Diksi
Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat mungkin memilih kata-katanya untuk mencapai maksud tersebut. Ketepatan tidak akan menimbulkan salah paham.
Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menuntut persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.
Adapun syarat-syarat ketepatan pilihan kata adalah :
1) Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi.
Denotasi ialah kata yang bermakna lugas atau tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi ialah kata yang dapat menimbulkan bermacam-macam makna. Contoh :
  Bunga eldeweis hanya tumbuh ditempat yang tinggi.  (Denotasi)
  Sinta adalah ·bunga desa di kampungnya.     (Konotasi)

2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim.
 Siapa ·pengubah peraturan yang memberatkan pengusaha?
 Pembebasan bea masuk untuk jenis· barang tertentu adalah peubah peraturan yang selama ini memberatkan pengusaha.

3) Membedakan kata-kata yang mirip ejaannya.
 Intensif –· insensif                     
 Karton –· kartun                         
 Korporasi –· koperasi               
  
4) Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan. Contoh :
 ·Modern : canggih    (secara subjektif)
 ·Modern : terbaru atau muktahir (menurut kamus)
 ·Canggih : banyak cakap, suka menggangu, banyak mengetahui, bergaya intelektual (menurut kamus)

5) Waspada terhadap penggunaan imbuhan asing.
· Dilegalisir seharusnya dilegalisasi.
· Koordinir seharusnya koordinasi.

6) Membedakan pemakaian kata penghubung yang berpasangan secara tepat.
Pasangan yang salah
Pasangan yang benar
antara ..... dengan ....
antara .... dan .....
tidak ..... melainkan .....
tidak ..... tetapi .....
baik ..... ataupun .....
baik ..... maupun .....
bukan ..... tetapi .....
bukan ...... melainkan .....

7) Membedakan kata umum dan kata khusus secara cermat.
 
Kata umum adalah sebuah kata yang mengacu kepada suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya. Sedangkan kata khusus adalah kata yang mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan kongkret. Contoh :
 Kata umum : melihat·
 Kata khusus: melotot,· membelak, melirik, mengintai, mengamati, mengawasi, menonton, memandang, menatap. 

8) Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.
 Isu (berasal dari bahasa Inggris· “issue”) berarti publikasi, perkara.
 Isu (dalam bahasa Indonesia)· berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabar angin, desas-desus.

9) Menggunakan dengan cermat kata bersinonim, berhomofoni, dan berhomografi.
Sinonim adalah kata-kata yang memiliki arti sama.
Homofoni adalah kata yang mempunyai pengertian sama bunyi, berbeda tulisan, dan berbeda makna.
Homografi adalah kata yang memiliki kesamaan tulisan, berbeda bunyi, dan berbeda makna.
 Sinonim : Hamil (manusia) – Bunting· (hewan)
 Homofoni : Bank  (tempat menyimpan uang) – Bang (panggilan kakak laki-laki)
 Homografi : Apel (buah) – Apel (upacara)

10) Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat.
Kata abstrak mempunyai referensi berupa konsep, sedangkan kata konkret mempunyai referensi objek yang diamati. Contoh :
 Kata abstrak·
Kebaikkan seseorang kepada orang lain merupakan sifat terpuji.
 Kata konkret·
APBN RI mengalami kenaikkan lima belas persen.

Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna :
Makna sebuah kata / sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :

    1.      Makna Leksikal 
Makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita.
Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).
Makna Gramatikal : untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.

    2.      Makna Referensial dan Nonreferensial 
Makna referensial & nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial kalau tidak memiliki referen.
Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial).

  3.   Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya normal.  
Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.

    4.   Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yg bisa dikendarai”. 
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem / kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata melati berasosiasi dg suatu yg suci / kesucian. Kata merah berasosiasi berani / paham komunis.

    5.   Makna Kata dan Makna Istilah
Makna kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.  
Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.

   6.   Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Yang dimaksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contoh: Kata ketakutan, kesedihan, keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yg disebut makna dasar, Kata rumah kayu bermakna, rumah yang terbuat dari kayu.  
Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa

   7.   Makna Kias dan Lugas
Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Contoh: Putri malam bermakna bulan , Raja siang bermakna matahari.
Agar dapat menghasilkan cerita yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang baik harus memenuhi syarat, seperti :
• Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.
• Seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa bagi pembacanya.
• Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti.

Contoh Paragraf :
 1). Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan kawanku. Udara disana sangat sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang tak lama kemudian.
 2). Liburan tahun ini Aku dan kawanku berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak henti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah untuk menyambut kedatangan kami.


Sumber : sumber1 , sumber2 , sumber3 , sumber4 , sumber5 
Sumber lain : Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia. 2006.

Minggu, 12 Oktober 2014

Interaksi Manusia & Komputer

Bad Design

Pada tulisan kali ini, saya akan menjelaskan tentang contoh bad design dari sebuah web dan saya juga akan menjelaskan design yang bagus itu seperti apa. Sebenarnya yang dikatakan "Bad Design" itu adalah sebuah desain yang buruk atau tampilannya tidak enak dilihat oleh mata. Mungkin ada baiknya jika ingin membuat sebuah website cukup simple saja dan yang pastinya tidak mengganggu penglihatan. Dan berikut ini adalah salah satu contoh website yang mempunyai tampilan buruk.

A.    WEBSITE
http://www.ingenfeld.de/

Apa yang salah dengan Design diatas ?
1.      Ketika masuk Home, Tampilan terlalu ramai  dengan iklan dan banyaknya gambar-gambar yang tidak penting bermunculan, dan ada pula gambar yang tidak layak dipublikasikan muncul.
2.      Loading web lama, dengan speed internet 65KBps (stabil), membutuhkan >10Menit untuk membuka semua gambarnya.
3.      Kombinasi warna tulisan dan background tidak sinkron (warna terlalu terang).
4.      Tidak memiliki focus tema, entah pada web tersebut mempromosikan hal apa.
5.      Tata letak gambar, dan teks yang berantakan/tidak efisien.
6.      Mungkin karna web luar, jadi bahasa nya bukan bahasa inggis yang benar ataupun Bahasa Indonesia, jadi harus mengartikannya dengan secara terampil.

Menurut saya design tersebut seharusnya :
1.      Seharusnya tata letak posting gambar dan teks harus dirapihkan lagi.
2.      Kombinasi warna tulisan dan background harus di sinkron kan, agar para visitor betah berlama lama di website.
3.      Harusnya jika memang web untuk seluruh dunia, harusnya mempunyai option untuk terjemahan Negara visitor.
4.      Harusnya tidak ada gambar yang tidak layak untuk di publikasikan pada situs tersebut, karena ditakutkan anak-anak akan membukanya.

B.     HANDPHONE



Apa yang salah dengan Design Nokia 3650 diatas ?
1.      Dimana Keypad-keypad-nya berbentuk melingkar, sehingga user susah untuk mengetiknya.
2.      Tidak bisa dipegang hanya dengan 1 tangan, karna terlalu besar.
3.      Menurut saya juga tidak praktis karna kebiasaan orang Indonesia memakai 2 jenis keypad, yaitu qwerty atau keypad konvensional seperti yang ada pada handhone umumnya (angka 2 mewakili abc, angka 3 mewakili def, dst).
4.      Jika di bawa-bawa tidak praktis, karna tidak bisa masuk kekantong ke dalam kantong.

Menurut saya design tersebut seharusnya :
1.      Seharusnya tombol keypardnya tidak melingkar agar user tidak merasa kesulitan untuk mengetik sms.
2.      Harusnya jangan terlalu panjang, lebar dan berat agar bisa di pegang hanya dengan satu tangan, sehingga praktis untuk digenggam dan dapat dimasukkan ke dalam  kantong dengan mudah.

Kesimpulan dan Saran
Website yang bagus atau menarik itu biasanya enak dilihat, tidak ribet dan tidak terlalu bermain dengan warna. Jika melihat contoh web diatas, ada baiknya web tersebut memfokuskan pada satu tema. Dan untuk menarik para pembaca yang ingin melihatnya, website ini seharusnya tidak harus color full (warna-warni). Bahasa yang digunakan pun seharusnya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang, seperti bahasa inggris. Kemudian, dibagian awal seharusnya diberi tahu tujuan dari website ini untuk apa sehingga tidak memusingkan bagi yang ingin melihatnya.



Selasa, 07 Oktober 2014

Portofolio

BIODATA
Nama
Hotmaida Sianipar
Tempat Lahir
Tapanuli Selatan
Tanggal Lahir
28 Maret 1993
Umur
21th
Jenis Kelamin
Perempuan
Agama
Islam
Negara
Indonesia
Alamat
Jl. Kelapa Dua Depok
Alamat Blog
Hotmaida2803.blogspot.com
Email
No Handphone
081217202608


Pendidikan Formal
1999-2005 : SDN 006 Dumai
2005-2008 : MTs Negri Dumai
2008-2011 : SMK Negri 1 Dumai
2012- Sekarang  : Universitas Gunadarma

Pendidikan Nonformal
Magang
1.         PT.PLN (Persero) Dumai
Seminar
1.         Introducing To The Video Mapping Art Project
2.       Beauty Photography, Tips & Trick Modeling
3.       Android And Mobile Commerce Unify
4.       Writerpreneurship
5.       Seminar Perkembangan Teknologi Jaringan Komputer

Hobi
Mendengarkan Lagu

Keahlian
Ms. Word Ms. Excel Ms.PowerPoint, Adobe Photoshop, CorelDRAW, Photoscape, Ms. Visual Basic, Pascal, C, C++, Movie Maker




Selasa, 29 April 2014

Bayern vs Madrid: Los Blancos Dihantui Rekor Buruk


Liputan6.com, Madrid: Setelah pekan lalu menang 1-0, Real Madrid akan ganti bertandang ke markas Bayern Muenchen di Allianz Arena pada leg kedua semifinal Liga Champions, Rabu (30/4/2014) dinihari WIB.

Los Blancos cuma butuh hasil imbang saja untuk lolos ke partai final. Namun Madrid dihantui rekor buruk bila bertandang ke markas Bayern. Dari 10 kali pertemuan di kandang Bayern pada ajang Liga Champions, Madrid belum pernah menang. Madrid menelan sembilan kekalahan dengan satu kali imbang.

Madrid juga sering tersandung bila melawan klub Jerman. Musim lalu mereka tersingkir di semifinal Liga Champions setelah secara mengejutkan didepak oleh Borussia Dortmund.

Pelatih Madrid Carlo Ancelotti sudah memperingatkan timnya untuk tidak berpuas diri karena belum memastikan tiket ke final. Ancelotti melihat laga di Allianz Arena akan sangat berat.

"Kami tahu pertandingan besok akan sangat sulit. Kami bermain melawan tim hebat dengan sedikit keuntungan, jadi kami tidak begitu bodoh untuk berpikir kami sudah lolos," tegas Ancelotti.

Ancelotti ingin timnya mencetak gol lebih dulu sehingga langkah ke final Liga Champions pertama dalam satu dekade terakhir akan semakin mudah.

Untungnya Ancelotti bisa menurunkan kekuatan terbaiknya terutama di lini depan. Trio Cristiano Ronaldo, Karim Benzema dan Gareth Bale bisa main. Dua nama terakhir dinyatakan siap tempur meski absen saat Madrid menang 4-0 atas Osasuna di ajang La Liga.

Meski dihantui rekor buruk kala main di Muenchen, Madrid dapat sedikit tenang karena Ancelotti memiliki catatan bagus bila bertemu Bayern. Dia tidak pernah kalah saat melawan Bayern dalam tujuh pertemuan baik bersama Madrid, Juventus, AC Milan dan Chelsea.

Sementara di kubu Bayern, FC Hollywood cukup optimistis akan bisa mengukir rekor sebagai tim pertama yang bisa mempertahankan trofi Liga Champions bermodalkan rekor bagus di kandang.

"Madrid pastinya memiliki kepercayaan diri lebih karena hasil di Spanyol, tapi mereka tahu tidak akan mudah di sini. Tidak akan ada hadiah diberikan dari kami," kata bintang Bayern Arjen Robben.

Yang membuat Bayern makin yakin bisa melewati hadangan Madrid meski kalah di leg pertama adalah keberhasilan mereka mencukur Barcelona di Allianz Arena 4-0 tahun lalu.

Untuk bisa mengejar defisit satu gol, pelatih Bayern Josep Guardiola akan berharap banyak pada Robben dan Franck Ribery. Kedua pemain ini mati kutu di leg pertama oleh penjagaan ketat dari Fabio Coentrao dan Dani Carvajal.

Sayangnya Guardiola masih belum bisa menurunkan Thiago Alcantara. Padahal tenaga Thiago sangat dibutuhkan karena sudah mengenal betul gaya main Madrid mengingat dia lama membela Barcelona.

Bayern juga mengharapkan dukungan luar biasa fans mereka untuk bisa mendepak Madrid. "Pada laga melawan Barcelona tahun lalu kami melihat apa yang fans kami dapat lakukan. Kami butuh mereka lagi sekarang," ucap bek Bayern David Alaba.

Mampukah Ancelotti membawa Madrid mengatasi rekor buruk di Muenchen atau justru Bayern yang bisa melaju ke final lagi? Saksikan hanya di SCTV mulai 01.45 WIB.
Prakiraan Susunan Pemain:

Bayern: Neuer, Alaba, Dante, Boateng, Lahm, Schweinsteiger, Kroos, Goetze, Robben, Ribery, Mandzukic

Madrid: Casillas, Carvajal, Ramos, Pepe, Marcelo, Xabi, Modric, Di Maria, Ronaldo, Bale, Benzema

Sumber : http://bola.liputan6.com/